Sidang umum MPR hasil pemilu 1999 pada 1 sampai 21 Oktober 1999 telah berhasil menetapkan Prof.Dr.Amien Rais sebagai ketua MPR, Ir.Akbar Tanjung sebagai ketua DPR, K.H Abdurrahman Wahid sebagai presidan dan Megawati Soekarnoputri sebagai wakil Presiden untuk masa Bhakti 1999-2004.
Pada masa ini tercatat beberapa langkah pemerintah yng berkontroversial sampai memicu konflik dengan parlemen yang semakin kuat posisinya. Beberapa langkah kontrversial terebut antara lain:
*Menetapkan imlek sebagai hari libur Nasional.
*Menetapkan nama Papua untuk menggantikan Irian Jaya dan memfasilitasi kongres rakyat Papua.
*Menetapkan nama Nanggroe Aceh Darussalam sebagai nama resmi untuk Aceh dan membuat persetujuan gencatan senjata dengan pemberontak Aceh pada Desember 2002 dengan membuka pembicaraan damai ke meja perundingan.
*Menghimbau kepada MPR untuk mencabut TAP MPRS XXV/1966 tentang pembentukan partai komunis dan PKI sebagai organisasi terlarang serta larangan penyebaran ajaran marxisme/leninisme di Indonesia.
Kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid pada saat itu berada dalam keadaan yang sangat kritis. Hal itu ditandai dengan berkumpulnya para pimpinan partai politik terbesar di kediaman wakil presiden Megawati Soekarnoputri pada 22 Juli 2001 untuk mendukungnya maju memegang tampuk kepemimpinan nasional.
Pada masa ini tercatat beberapa langkah pemerintah yng berkontroversial sampai memicu konflik dengan parlemen yang semakin kuat posisinya. Beberapa langkah kontrversial terebut antara lain:
*Menetapkan imlek sebagai hari libur Nasional.
*Menetapkan nama Papua untuk menggantikan Irian Jaya dan memfasilitasi kongres rakyat Papua.
*Menetapkan nama Nanggroe Aceh Darussalam sebagai nama resmi untuk Aceh dan membuat persetujuan gencatan senjata dengan pemberontak Aceh pada Desember 2002 dengan membuka pembicaraan damai ke meja perundingan.
*Menghimbau kepada MPR untuk mencabut TAP MPRS XXV/1966 tentang pembentukan partai komunis dan PKI sebagai organisasi terlarang serta larangan penyebaran ajaran marxisme/leninisme di Indonesia.
Kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid pada saat itu berada dalam keadaan yang sangat kritis. Hal itu ditandai dengan berkumpulnya para pimpinan partai politik terbesar di kediaman wakil presiden Megawati Soekarnoputri pada 22 Juli 2001 untuk mendukungnya maju memegang tampuk kepemimpinan nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar